Pecinan Semarang: Bagian Kota Atlas Ini Bak Negeri Tirai Bambu

Pecinan Semarang: Bagian Kota Atlas Ini Bak Negeri Tirai Bambu

0

Pecinan (Chinatown) adalah kawasan yang dihuni banyak warga berketurunan Tionghoa. Kawasan seperti ini ada di seluruh dunia lantaran orang-orang keturunan Tiongkok sudah menjelajahi setiap sudut bumi.

sewa mobil online

Fenomena ini menyambangi Kota Semarang jua. Apalagi, Semarang adalah sebuah kota pelabuhan di ujung utara Pulau Jawa. Kawasan Pecinan Semarang berkembang pesat dan bahkan menjadi salah satu tempat wisata andalan kota tersebut. Semarang Chinatown memiliki beberapa ciri khas yang tak dapat ditemukan di Pecinan lain di Indonesia.

Yang pertama, luas kawasan Pecinan di Semarang cukup besar. Kawasan Pecinan ini dihiasi puluhan kelenteng dan setidaknya satu kawasan kuliner khas Tiongkok. Tercatat ada 11 kelenteng di Chinatown Semarang dengan sejarah dan fungsi berbeda-beda.

Baca :   Water Blaster Graha Candi Golf Semarang

Seperti misalnya, Kuil Penenang Samudera Tek Hay Bio di Gang Pinggir. Sesuai dengan arti namanya, kelenteng ini mempunyai ornamen unsur laut yang dominan.

Lalu ada Kelenteng See Hoo Kion di Jalan Sebandaran I. Kelenteng ini merupakan tempat memuja Dewa Pedang. Masih di lokasi yang sama, ada Kelenteng Wie Wie Kiong yang berarsitektur semi-Eropa. Kelenteng ini ditetapkan sebagai kelenteng terbesar di Semarang.

Dua kelenteng lain yang memiliki unsur historis cukup kuat adalah Kelenteng Tay Kak Sie dan Kelenteng Siu Hok Bio. Kelenteng Tay Kak Sie beralamatkan di Gang Lombok. Kelenteng tersebut ditetapkan sebagai induk dari kelenteng-kelenteng yang ada di Kota Semarang. Heroisme etnis Tiongkok di Kota Semarang dijadikan tema arsitektur Kelenteng Tay Kak Sie.

Baca :   Brown Canyon, Suatu Tempat Wisata yang Lahir dari Aktivitas Penambangan

Sementara itu, Kelenteng Siu Hok Bio tercatat didirikan pada tahun 1753 oleh warga Pecinan Lor. Di tahun tersebut, belum ada satu pun kelenteng di Semarang. Dengan demikian, Kelenteng Siu Hok Bio menjadi kelenteng tertua di kota ini. Kelenteng Tong Pek Bio, Kelenteng Hoo Hok Bio, Kelenteng Grajen, dan Kelenteng Kong Tik Soe adalah lima kelenteng lain yang berada di daerah administratif Kota Semarang.

Tak hanya bangunan religi yang menyimbolkan Chinatown Semarang. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, pusat kuliner Tiongkok menjadi salah satu nilai pariwisata Semarang hingga sekarang. Tradisi Semawis (Semarang untuk Pariwisata) kiranya menyimbolkan semangat para warga keturunan Tionghoa untuk melestarikan masakan tradisional bergaya Tionghoa-Indonesia.

Baca :   Taman Unyil Ungaran : Taman Isi Miniatur Jalan Raya

Tradisi Semawis dicetuskan oleh Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata, disingkat Kopi Semawis. Mereka sering menjual kuliner dari berbagai negara, khususnya kuliner tradisional Jawa-China, setiap hari Jumat hingga Minggu, pkl. 18.00 s.d. 23.00 WIB. Adapun tempat yang mereka gunakan untuk berjualan selama ini adalah di Gang Waroeng.

Menu-menu yang dijual di Semawis (yang dalam bahasa Jawa juga berarti tersedia) antara lain nasi campur khas Tionghoa, gudeg koyor khas Semarang, lunpia, kwetiau, siomay, ayam goreng sambel mangga, dan bubur kampiun. Karena pasar ini juga menjual menu nonhalal, umat Muslim sebaiknya bertanya terlebih dahulu apabila menyangsikan kehalalan menu yang ditawarkan. Para warga akan dengan senang hati membantu.

sewa mobil online