Lawang Sewu: Saksi Kejadian Bersejarah di Kota Lama

Lawang Sewu: Saksi Kejadian Bersejarah di Kota Lama

0
Lawang Sewu

Lawang Sewu adalah sebuah bekas gedung kantor milik maskapai kereta api pemerintahan Hindia-Belanda saat berkuasa di Nusantara. Bekas kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) ini berada di bundara Tugu Muda di kawasan Kota Lama Semarang. Sebagai informasi, pada jaman dahulu, Tugu Muda dikenal dengan nama Wilheminaplein.

sewa mobil online

Lawang Sewu dibangun pada tahun 1904 di lahan seluas sekitar 2,5 hektare. Pembangunannya baru selesai pada tahun 1919. Saat ini, bangunan tersebut dimiliki oleh PT Kereta Api Indonesia. Sebelumnya, Kodam IV/Diponegoro pernah berkantor di sini. Mereka menggunakan Lawang Sewu sebagai Kantor Badan Prasaran. Kementerian Perhubungan Jawa Tengah pernah memakainya sebagai Kantor Wilayah.

Pertumpahan darah juga pernah terjadi Lawang Sewu tepatnya pada tanggal 14-19 Oktober 1945. Saat itu, Angkatan Muda Kereta Api berperang melawan Kesatuan Polisi Militer (Kempetai) dan Kidobutai Jepang. Pertempuran ini dikenal dengan sebutan Pertempuran Lima Hari.

Baca :   Lelah dengan Hiruk-pikuk Kota? Segarkan Diri Anda di Kawasan Eling Bening Ambarawa

Kepopuleran salah satu bangunan ikonik di kawasan Kota Lama meningkat sekitar awal tahun 2000. Tepatnya, saat masyarakat Indonesia sedang menggemari acara-acara bertopik mistis. Bangunan tersebut pernah diliput beberapa kali oleh stasiu televisi nasional. Banyak di antaranya fokus pada sisi misteri Lawang Sewu.

Mengenai julukan Lawang Sewu, nama ini sesungguhnya merupakan ungkapan hiperbolis dari warga sekitar yang mendiskrispsikan bentuk gedung. Bangunan ini memang sangat luas sehingga tidak heran jika memiliki banyak sekali pintu dan jendela. Seperti kebanyakan arsitektur jaman Belanda, gedung Lawang Sewu juga memiliki jendela-jendela besar tinggi lebar yang terlihat seperti pintu. Banyaknya pintu tersebut membuat masyarakat menyebutnya Lawang Sewu/1.000.

Baca :   Bukit Gombel : Penuh Kisah Misteri, Disukai Muda-mudi

Sesuai dengan Surat Keputusan Wali Kota No. 650/50/1992, Lawang Sewu adalah satu dari 102 bangunan bersejarah di Kota Semarang. Dengan demikian, Lawang Sewu merupakan bangunan yang harus dilestarikan.

Arsitektur Lawang Sewu yang unik tersebut merupakan buah karya dua orang arsitek Belanda. Mereka adalah Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J. Quendag. Bangunan tiga lantai ini memiliki desain atap dan langit-langit yang canggih. Sirkulasi udara tropis yang panas bisa keluar dengan bebas melalui ventilasi. Sistem perpipaan di Lawang Sewu juga telah diperhitungkan sedemikian rupa sehingga bisa menjangkau seluruh ruangan.

Klinkhamer dan Quendag memiliki ide untuk membangun lorong bawah tanah. Mereka mengisi lorong tersebut dengan air. Upaya mereka ini bertujuan untuk mendinginkan lantai di atasnya. Tentu saja, desain ini amat menguntungkan bagi penghuninya karena iklim tropis membuat daerah di Indonesia selalu disinari matahari sepanjang tahun sehingga udaranya panas. Desain yang dianggap sangat ramah lingkungan ini cukup canggih pada jamannya. Bahkan, hingga sekarang, desain ini bisa saja diterapkan untuk bangunan-bangunan baru di Indonesia.

Baca :   Umbul Sidomukti Tawarkan Beragam Atraksi Wisata Pemacu Adrenalin

Area bawah tanah, termasuk lorong yang dialiri air itu, ternyata pernah dijadikan lokasi penyiksaan orang-orang Belanda oleh tentara Jepang. Area penjara tersebut termasuk lokasi Lawang Sewu yang mistis karena sering muncul penampakan hantu di sana.

Pemerintah Kota Semarang berharap Lawang Sewu bisa semakin maju sebaagai destinasi wisata sejarah dan budaya (terutama arsitektur). Nilai-nilai mistis memang diakui sangat menjual nama Lawang Sewu. Akan tetapi, bangunan ini memiliki beragam nilai lain yang tak kalah menarik.

sewa mobil online