Pelabuhan Sunda Kelapa, Dulu Jaya Sekarang Merana

Pelabuhan Sunda Kelapa, Dulu Jaya Sekarang Merana

0
Pelabuhan Sunda Kelapa - malam hari (foto: Instagram @_alfiananwar)
Pelabuhan Sunda Kelapa - malam hari (foto: Instagram @_alfiananwar)

Fakta Cepat Mengenai Pelabuhan Sunda Kelapa :

sewa mobil online
  1. Salah satu pelabuhan tertua di Indonesia
  2. Cikal-bakal lahirnya Kota Jakarta
  3. Gerbang masuknya agama Islam di Tanah Betawi
  4. Dikuasi Belanda selama lebih dari 300 tahun
  5. Ditinggalkan karena mengalami pendangkalan air

Sunda Kelapa di Era Kerajaan Hindu-Buddha

Pelabuhan Sunda Kelapa terletak di Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Pelabuhan ini adalah cikal-bakal Kota Jakarta yang sekarang ini merupakan ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pelabuhan ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Hindu-Buddha yaitu sejak abad ke-5.

Pada masa itu, pelabuhan Sunda Kelapa disebut dengan nama Sundapura. Kerajaan yang menguasai pelabuhan tersebut adalah Kerajaan Tarumanegara.

Proses Bongkar Muat di Pelabuhan Sunda Kelapa (foto: Instagram @nizam_althojiri)
Proses Bongkar Muat di Pelabuhan Sunda Kelapa (foto: Instagram @nizam_althojiri)

Berabad-abad setelah itu, tepatnya sekitar abad ke-12, Kerajaan Pajajaran mengambil alih daerah kekuasaan Sundapura. Lantas, dengan sebutan baru yakni Sunda Kelapa, pelabuhan tersebut menjadi kawasan kekuasaan penting Kerajaan Pajajaran. Tome Pires, penulis asal Portugis yang sering mendokumentasikan perkembangan sejarah dunia, menyatakan bahwa Kalapa adalah pelabuhan terpenting karena terletak dekat dengan ibu kota Kerajaan Pajajaran, Pakuan.

Sebelum para penjelajah Eropa datang ke daerah tersebut, Sunda Kelapa menjadi tempat merapat kapal-kapal dari India Selatan, Jepang, Tiongkok, dan Timur Tengah. Mereka membawa komoditas dagangan berupa sutra, kopi, kain, anggur, wangi-wangian, zat warna, dan porselen. Pedagang-pedagang tersebut menukar barangnya dengan rempah-rempah yang menjadi komoditas dagang pedagang-pedagang Sunda Kelapa saat itu.

Sunda Kelapa Sebagai Gerbang Penyebaran Agama Islam

Papan Nama di Kawasan Pekojan (foto: Instagram @ddokiii)
Papan Nama di Kawasan Pekojan (foto: Instagram @ddokiii)

Mempunyai lokasi yang strategis, Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi gerbang masuknya penyebaran agama Islam yang dibawa oleh pedagang Muslim dari jazirah Arab. Pada awalnya, mereka singgah di pesisir pelabuhan untuk berdagang. Seiring berjalannya waktu, mereka menetap di daerah itu dan menyebarkan agama Islam di Tanah Betawi.

Baca :   Gedung Kesenian Jakarta, Tempat Seniman Indonesia Berkreasi

Pada saat Belanda menguasai daerah pelabuhan, para pendatang Muslim ini dipindahkan ke sebuah kampung bernama Pekojan. Kampung tersebut saat ini termasuk dalam wilayah Jakarta Barat.

Hingga sekarang, peninggalan-peninggalan pada masa penyebaran agama Islam masih bisa dilihat di beberapa bangunan. Masjid An Nawier, Masjid Al Anshor, dan Langgar Tinggi adalah beberapa masjid tua pusat penyebaran dakwah Islam tempo dulu.

Sunda Kelapa di Era Kerajaan Islam

Kerajaan Sunda dan Portugis menandatangi suatu perjanjian izin pembuatan loji Portugis pada tanggal 21 Agustus 1522 di Sunda Kelapa. Loji adalah suatu perkantoran dan perumahan yang dilengkapi benteng. Langkah strategis ini diambil oleh Portugis demi melancarkan kegiatan perdagangan mereka.

Namun, perjanjian tersebut dianggap sebagai ancaman oleh Kerajaan Demak yang merupakan Kerajaan Islam terbesar di Pulau Jawa saat itu. Kerajaan Demak lantas menginstruksikan Fatahillah untuk mengusir Portugis dari Sunda Kelapa. Selain mengusir Portugis, Fatahillah ditugaskan untuk merebut kota pelabuhan itu.

Fatahillah pun berangkat menumpas Portugis ke Sunda Kelapa. Dengan dibantu prajurit Kerajaan Cirebon, sang utusan Kerajaan Demak berhasil menguasai pelabuhan di muara Kali Ciliwung itu pada tanggal 22 Juni 1527. Hari bersejarah inilah yang ditetapkan sebagai Hari Lahir Kota Jakarta.

Nama Sunda Kelapa pun diganti menjadi Jayakarta. Nama tersebut diambil dari bahasan Sanskerta yang berarti kemenangan yang diraih oleh sebuah perbuatan atau usaha.

Sunda Kelapa di Era Penjajahan Belanda

Cornelis de Houtman, seorang utusan Belanda, mendirikan kongsi dagang VOC pada 20 Maret 1602. Tujuan utama mereka adalah untuk mencari rempah-rempah. Namun, mereka memerlukan basis untuk berdagang. Maka dari itu, di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen, Jayakarta direbut dan dimusnahkan pada tanggal 30 Mei 1619.

Baca :   Napak Tilas Detik-detik Kemerdekaan Indonesia di Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Usai merebut Jayakarta, Coen menamai kota tersebut dengan nama Batavia. Inspirasi nama itu diambil dari nama sebuah suku Keltik yang pernah tinggal di wilayah negeri Belanda pada zaman Romawi.

Belanda membuat perjanjian dengan Pangeran Jayawikarta pada tahun 1610. Perjanjian tersebut memberikan izin kepada Belanda untuk membuat pos dagang dan gudang penyimpanan di timur muara Sungai Ciliwung. Pelabuhan Sunda Kelapa pun direnovasi dan dibuat kanal-kanal agar tidak banjir.

Sunda Kelapa di Abad Ke-19 : Berada di Ujung Kejayaan

Daerah wilayah Sunda Kelapa mengalami pendangkalan air sekitar tahun 1859. Pendangkalan ini membuat kapal-kapal tidak lagi bisa bersandar di dekat pelabuhan. Barang-barang pun harus diangkut dari tengah laut dengan menggunakan perahu-perahu yang lebih kecil.

Repotnya menurunkan barang-barang ini menjadi salah satu faktor mulai sepinya pelabuhan Sunda Kelapa. Padahal, nun jauh di benua Afrika sana, Terusan Suez baru saja dibuka. Adanya Terusan Suez seharusnya bisa dimanfaatkan oleh Sunda Kelapa untuk mengembangkan pelabuhan itu.

Belanda yang melihat potensi tidak bisa dimanfaatkannya Terusan Suez karena keterbatasan Sunda Kelapa melirik kawasan lain untuk dijadikan pelabuhan baru. Pada akhirnya, Belanda memutuskan untuk berhenti mendukung perkembangan Sunda Kelapa dan memilih membuat Pelabuhan Tanjung Priok.

Sunda Kelapa di Abad ke-20

Pada masa penjajahan Jepang di tahun 1942, nama kota Batavia diubah menjadi Jakarta. Sedangkan nama Sunda Kelapa kembali dipakai sebagai nama pelabuhan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta No.D.IV a.4/3/74 tanggal 6 Maret 1974

Sunda Kelapa Saat Ini

Sunda Kelapa (foto: Instagram @ratrihendrowati)
Sunda Kelapa (foto: Instagram @ratrihendrowati)

Dewasa ini, pelabuhan Sunda Kelapa hanya melayani jasa transportasi kapal antar pulau di Indonesia. Luas daratannya sekitar 760 hektare dan luas perairan kolamnya 16.470 hektare. Wilayah ini dibagi menjadi dua pelabuhan yaitu Pelabuhan Utama dan Pelabuhan Kalibaru.

Baca :   10 Destinasi Wisata Sejarah di Jakarta

Pelabuhan Utama memiliki panjang 3.250 meter dan luas kolam sekitar 1.200 meter. Pelabuhan ini mampu menampung 70 perahu layar motor. Sedangkan Pelabuhan Kalibaru memiliki luas lebih sempit yaitu panjang 750 meter dan luas kolam 42.128,74 meter. Dengan luas sedemikian, pelabuhan ini mampu menampung sekitar 65 kapal antar pulau. Luas daratan Pelabuhan Kalibaru adalah 343.399 meter persegi. Pelabuhan ini juga memiliki lapangan penumpukan barang dengan luas 31.131 meter persegi.

Meskipun sudah tidak menjadi pelabuhan yang diperhitungkan, lokasi pelabuhan ini tetaplah strategis karena berdekatan dengan pusat-pusat perdagangan Jakarta. Pasar Pagi, Mangga Dua, dan Glodok adalah kawasan-kawasan perdagangan yang sangat diperhitungkan di Jakarta.

Pelabuhan Sunda Kelapa memiliki keunikan antara lain adanya peninggalan Galangan Kapal VOC dan gedung-gedung VOC di sebelah selatan. Kapal-kapal nelayan khas zaman Belanda bisa ditemukan di sini. Kapal-kapal layar berujung lancip ini kemungkinan sudah tidak bisa ditemukan lagi di pelabuhan lain. Peninggalan bersejarah ini tentunya menambah nilai tambah pelabuhan sebagai destinasi wisata.

Banyak museum yang berasal dari gedung bangunan Belanda antara lain Museum Bahari, Museum Wayang, dan Museum Fatahillah. Museum-museum ini tentunya bisa menjadi lokasi destinasi wisata selanjutnya setelah mengunjungi Sunda Kelapa.


Sewa mobil di Jakarta sekarang jadi mudah dengan aplikasi DOcar – Solusi Sewa Mobil Pilihan Anda. Unduh aplikasi DOcar tanpa dipungut biaya alias GRATIS di Google PlayStore. Pastikan Anda membagikan artikel ini ke keluarga dan teman-teman Anda jika Anda mendapati artikel ini menambah wawasan umum Anda karena ilmu tidak akan habis walau dibagi.


sewa mobil online