Benteng Kuto Besak : Benteng “di atas Pulau”

Benteng Kuto Besak : Benteng “di atas Pulau”

0
Benteng Kuto Besak
Benteng Kuto Besak

Fakta Cepat Mengenai Benteng Kuto Besak:

sewa mobil online
  1. Pusat Kesultanan Palembang pada masa jayanya
  2. Proses pengerjaannya dinilai sebagai refleksi keragaman masyarakat
  3. Satu-satunya benteng di Palembang yang digunakan untuk mempertahankan diri dari penjajah di era kolonial

Benteng Kuto Besak adalah sebuah keraton yang dibangun pada abad ke-18. Keraton ini berfungsi sebagai pusat Kesultanan Palembang (1550-1823). Benteng ini didirikan pada tahun 1780.

Benteng Kuto Besak memiliki tinggi bangunan 10 meter. Panjang benteng ini 288,75 meter; lebar 183,75 meter; dan tebal 1,99 meter. Benteng ini digunakan sebagai pos pertahanan.

Dari atas benteng, orang-orang bisa melihat lalu lintas kapal di Sungai Musi. Orang Palembang sangat membanggakan keberadaan benteng ini karena hanya benteng inilah satu-satunya benteng terbesar dan benteng yang digunakan untuk melawan penjajah di Palembang.

Baca :   Gunung Dempo, Salah Satu Puncak Tertinggi Pegunungan Bukit Barisan
Benteng Kuto Besak
Benteng Kuto Besak

Berdasarkan catatan resmi Arkeologi di Palembang, dibutuhkan waktu 17 tahun untuk membangun benteng ini. Pemrakarsa benteng adalah Sultan Mahmud Badaruddin I yang berkuasa pada tahun 1724-1758. Benteng mulai dibangun pada tahun 1780. Pembangunan baru selesai ketika Kesultanan Palembang diperintah oleh Sultan Mahmud Bahauddin yang berkuasa pada tahun 1776-1803.

Sultan Mahmud Bahauddin-lah yang memintahkan pusat pemerintahan dari Keraton Kuto Lamo ke Kuto Besak. Dia merupakan seorang  yang realistis dan praktis dalam perdagangan internasional. Sebagai seorang agamawan, Sultan Mahmud Bahauddin menjadikan Palembang sebagai pusat sastra agama di Nusantara.

Merefleksikan Masyarakat Multi-etnis

Benteng Kuto Besak adalah refleksi dari masyarakat multi-etnis di era Kesultanan Darusallam Palembang. Meskipun arsitek benteng tidak diketahui hingga saat ini, sejarawan mencatat bahwa kepala proyek benteng ini adalah seorang Tionghoa. Pekerjanya adalah penduduk asli Palembang dan komunitas Tionghoa yang bekerja bersama-sama mendirikan benteng. Keharmonisan ini adalah salah satu warisan yang masih dilestarikan hingga sekarang. Nilai-nilai keharmonisan ini terlihat dalam beberapa tradisi di Kota Palembang seperti Imlek dan Cap Go Meh.

Baca :   Danau Ranau : Suguhkan Wisata Air Danau Terbesar Kedua di Pulau Sumatra

Mempunyai Ornamen Bastion Unik

Benteng Kuto Besak, sama seperti kebanyakan benteng lainnya, memiliki bastion di setiap sudut. Bastion yang terletak di sebelah barat lebih besar daripada bastion lainnya. Hal ini sama seperti semua bastion yang ada di benteng Indonesia. Sementara itu, bastion lainnya memiliki gaya arsitektur unik yang tidak ada duanya. Pintu utama Benteng Kuto Besat dinamakan Lawang Kuto. Pintu tersebut terletak di sebelah selatan menghadap Sungai Musi. Dua pintu lainnya yang berlokasi di sebelah barat dan timur dinamakan Lawang Borotan. Hanya pintu sebelah barat yang masih berdiri hingga sekarang.

Baca :   Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Hadirkan Kembali Kejayaan Era Sriwijaya
Benteng Kuto Besak
Benteng Kuto Besak

Saat ini, Benteng Kuto Besak ditempati oleh Komando Daerah Militer (Kodam) Sriwijaya. Benteng ini mudah dijangkau dengan fasilitas angkutan umum seperti bus dan Trans Musi.


Sewa mobil di Palembang sekarang jadi mudah dengan aplikasi DOcar – Solusi Sewa Mobil Pilihan Anda. Unduh aplikasi DOcar tanpa dipungut biaya alias GRATIS di Google PlayStore. Pastikan Anda membagikan artikel ini ke keluarga dan teman-teman Anda jika Anda mendapati artikel ini menambah wawasan umum Anda; karena ilmu tidak akan habis walau dibagi.


sewa mobil online