Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Hadirkan Kembali Kejayaan Era Sriwijaya

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Hadirkan Kembali Kejayaan Era Sriwijaya

0
Museum Sultan Badaruddin II (foto: https://www.flickr.com/photos/52862926@N03/5973769856)
Museum Sultan Badaruddin II (foto: https://www.flickr.com/photos/52862926@N03/5973769856)

Fakta Cepat Mengenai Museum Sultan Mahmud Badaruddin II:

sewa mobil online
  1. Bangunan museum dulunya adalah Keraton Kuto Kecik
  2. Gaya bangunannya gabungan dari gaya kolonial Belanda dan gaya asli Palembang (Rumah Limas)
  3. Sebanyak 556 koleksi benda bersejarah terkait Kerajaan Sriwijaya tersimpan di museum ini

Selayang Pandang

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II berlokasi di Jalan Sultan Mahmud Badaruddin, 19 Ilir, Bukit Kecil, Kota Palembang, Provinsi Sumatra Selatan. Museum ini buka setiap hari pukul 08.00 hingga 15.30 WIB.

Bangunan museum Sultan Mahmud Badaruddin II ini sebenarnya adalah bekas Kasultanan Palembang. Tepatnya, bangunan ini dihuni oleh Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Badaruddin Wikramo atau Sultan Mahmud I pada tahun 1724-1758.

Pada tahun 1821, Belanda menyerang keraton tersebut hingga rusak parah. Karena keadaannya yang sudah sangat parah dan tidak terselamatkan lagi, bangunan tersebut dirobohkan atas perintah Komisaris Belanda, J.L. van Seven Hoven di tahun 1823.

Baca :   Hutan Wisata Punti Kayu : Paru-paru Kota Palembang

Bekas reruntuhan keraton dibangun kembali pada tahun 1825. Usai proses renovasi menyeluruh, bangunan tersebut dipakai sebagai Kantor Komisaris Gubernur East Indies untuk Sumatra bagian selatan serta kantor Residen.

Pada tahun 1942-1945, bangunan tersebut dikuasai Jepang. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, bangunan ini kembali menjadi milik Republik Indonesia.

Sekarang, bangunan bekas keraton tersebut telah resmi menjadi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Museum ini disebut sebagai destinasi wisata paling sempurna untuk menjelajah sejarah Palembang. Di museum ini, para pengunjung bisa menemukan koleksi dari Era Sriwijaya, Kesultanan Darussalam Palembang, Era Kolonial Belanda, dan Era Pendudukan Jepang, hingga awal kemerdekaan Indonesia.

Baca :   Danau Ranau : Suguhkan Wisata Air Danau Terbesar Kedua di Pulau Sumatra

Arsitektur Museum Sultan Badaruddin II Perpaduan Dua Gaya

Seperti telah diungkap sebelumnya di Fakta Cepat, arsitektur Museum Sultan Badaruddin II adalah perpaduan dari Era Kolonial Belanda dan Era Kerajaan Palembang. Keunikan kombinasi ini terlihat dari atap yang berbentuk limas. Sebab itulah, rumah-rumah di Palembang dinamakan Rumah Limas. Keunikan juga terlihat dari tangga yang berbentuk setengah lingkaran.

Sedangkan pengaruh gaya kolonial terlihat di jendela-jendela dan pintu-pintunya yang tinggi. Pintu-pintu museum dihiasi ukiran khas Palembang tepat di bagian atas pintu. Museum ini memiliki lantai kayu.

Museum Sultan Badaruddin II memiliki panjang 32 meter, lebar 22 meter, dan tinggi 17 meter. Keaslian arsitektur bangunan museum ini masih terjaga sejak era 1920-an. Hanya bentuk halamannya saja yang agak berubah dari tahun ke tahun. Dahulu, pepohonan dan rerumputan tumbuh di halaman. Namun sekarang, pepohonan dan rerumputan tersebut tergantikan oleh lantai bersemen. Hanya tampak sedikit tumbuhan yang masih dipertahankan.

Baca :   Benteng Kuto Besak : Benteng “di atas Pulau”

Menyimpan 556 Koleksi dari Berbagai Era

Museum Sultan Badaruddin II menyimpan sekitar 556 koleksi bersejarah. Koleksi-koleksi ini dibagi menjadi antara lain Koleksi Numismatika, Koleksi Keramologika, Koleksi Seni, Koleksi Arkeologika, Koleksi Etnografika, dan Koleksi Biologika.


Sewa mobil di Palembang sekarang jadi mudah dengan aplikasi DOcar – Solusi Sewa Mobil Pilihan Anda. Unduh aplikasi DOcar tanpa dipungut biaya alias GRATIS di Google PlayStore. Pastikan Anda membagikan artikel ini ke keluarga dan teman-teman Anda jika Anda mendapati artikel ini menambah wawasan umum Anda; karena ilmu tidak akan habis walau dibagi.


sewa mobil online