Sekaten, Tradisi Keraton yang Selalu Ditunggu Setiap Tahunnya

Sekaten, Tradisi Keraton yang Selalu Ditunggu Setiap Tahunnya

0

Sekaten, Tradisi Keraton yang Selalu Ditunggu Setiap Tahunnya

sewa mobil online

Sekaten merupakan upacara peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diadakan oleh Keraton Kasunanan Surakarta. Tradisi ini merupakan tradisi masyarakat Solo yang paling dikenal dan paling ditunggu. Karena merupakan tradisi memeringati hari kelahiran, maka tradisi ini diadakan setiap tahun. Sekaten berasal dari bahasa Arab, yakni Syahadatain (dua kalimat Syahadat).

Tradisi ini selalu diadakan oleh Keraton menjelang Maulud Nabi atau menjelang tanggal 12 bulan Mulud. Pelaksanaan tradisi Sekaten ditandai dengan dikeluarkannya dua gamelan pusaka pada tanggal 5 bulan Mulud untuk kemudian dibunyikan selama seminggu penuh (hingga tanggal 11 bulan Mulud). Dua gamelan itu adalah gamelan Kyai Guntur Madu dan gamelan Kyai Guntur Sari. Keduanya dibunyikan di Masjid Agung Surakarta, tepatnya di Bangsal Pagongan. Kyai Guntur Madu melantunkan gending Remu dan Kyai Guntur Sari melantunkan gending Rangkung. Kedua perangkat gamelan pusaka ini memainkan kedua gending tersebut secara bergantian. Setelah seminggu berbunyi, gelaran acara Sekatenan ditutup dengan Grebeg Mulud. Diadakan tepat di hari perayaan Maulud Nabi, acara Grebeg Mulud ini bertempat di Masjid Agung Surakarta.

Baca :   Grojogan Selondo, Keindahan Alami di Bumi Wonogiri

sekaten

Dibandingkan dengan Grebeg Syawal dan Grebeg Besar, upacara Grebeg Mulud paling menyedot perhatian masyarakat Solo dan sekitarnya. Hal tersebut kemungkinan karena para warga menunggu-nunggu pasar malam Sekaten yang digelar di Alun-Alun Utara. Biasanya, pasar malam Sekaten digelar jauh-jauh hari sebelum Sekatenan digelar di Masjid Agung Surakarta. Selain digelar lebih awal daripada Sekatenan di Masjid Agung, pasar malam Sekaten juga tutup paling akhir, setelah kehiatan utama selesai.

Baca :   Akulturasi Budaya Jawa-Eropa dalam Bentuk Istana, Keraton Mangkunegaran
sewa mobil online